Rimbun Bahasa
- Bersama mencintai Bahasa Kebangsaan kita
Siapakah yang pernah memimpikan
Sepohon bahasa yang rimbun
Setelah tahu tumbuh ia
Di atas sebidang tanah yang subur
Kenalkah kau siapakah yang membajainya
Berzaman sejak menunjangkan akar
Menyelinap kejap memasak bumi
Merendang tinggi mencecah ke awan.
Ini rimbun bahasa kita
Para moyang anda menumbuhkannya cermat
Kalau selendang bersulamkan dewangga
Kalau tikar berlapis kesumba
Dengannya terkirim pepatah juga petitih
Terungkap halu spantun dan seloka syair serta gurindam
Kiasnya cantik dalam lirik madah dan nyanyian
Terhantar kalian dongeng dan peri mitos-lagenda
hikayat atau ceritera.
Maka membesarlah bahasa ini
Kerana bertali-temali hati yang mencintai
Dari arus-mengarus sukma yang merindui
Pada dahannya bergantungan tulus pengorbanan
Akan pada rantingnya berjuraian gugus-gugus kerelaan
Di perdu membanirkan yakin kukuh
Kita generasi di gemilang peninggalan
Kita bangsa pada kebangkitan di agung warisan.
Dan, ketika di mana-mana dijelingkan curiga
dicebikkan upaya
Kau dengarkah mereka berganti silih
memperagakan senda
Rimbunnya gemulai amat tatkala mendepani
ribut mengasak
Beliung waktu memusarkan gelora ancam dan
rempuh yang baru
Gelombang peralihan nanti menghumban pergi
oleh kudratnya rapuh
Ia, kata mereka, hanya seorang lelaki tua
bermundar-mandir di lorong sempit
Daun-daunnya kegersangan tergetus dicakar
tantangan tak mengendah
Berdurja akhirnya di tubiran musim, tersepit
akhirnya ia resapkan.
Keresahan atas nama apakah keresahan
telah ia resapkan
Cemas dan gementar rupanya kian mengisi
setia yanmg calar
Sisih dan tolak mengikis menghakis tulus
yang retak
Kebencian atas nama apakah kebencian
sudah ia pendamkan
Sipu dan malu rupanya makin menggelincir
ragu yang cair
Gundah dan ronta menjurang menjarak
terima yang rela
Aduh, bahasa mengaduh dalam kesal keluh
ia pun mengaduh
Aduhai, nestapanya tumpah terburai di saujana
impiannya yang mensaujana.
Siapakah akhirnya yang berdiri nyaring menjerkah:
"Inilah rimbun bahasa kita!"
Semangatnya dititih dengan keris saktinya diasap
sumpah keramat
Lima abad terhembus pesan lestarikan ia
ke akhir perjuangan
Lima puluh tahun di genggam merdeka setengah kurun
bergalang jaga
Tegak bahasaku condongnya tidak tumbangnya
sesekali jangan
Seluruhnya mengahrum taman sastera seluruhnya
mewangi kebunan budaya
Citra bahasa mempelangikan megah menjaluri
martabat dan maruah
Dan, rimbunnya merendang memayungi bumi
dan bangsa ini sampai abadi.
(disalin daripada koleksi sajak KITA Lim Swee Tin)
No comments:
Post a Comment