Wednesday, April 20, 2011

Jom kita sama-sama menghayati bait-bait puisi ini

Rimbun Bahasa
       - Bersama mencintai Bahasa Kebangsaan kita

Siapakah yang pernah memimpikan
Sepohon bahasa yang rimbun
Setelah tahu tumbuh ia
Di atas sebidang tanah yang subur
Kenalkah kau siapakah yang membajainya
Berzaman sejak menunjangkan akar
Menyelinap kejap memasak bumi
Merendang tinggi mencecah ke awan.

Ini rimbun bahasa kita
Para moyang anda menumbuhkannya cermat
Kalau selendang bersulamkan dewangga
Kalau tikar berlapis kesumba
Dengannya terkirim pepatah juga petitih
Terungkap halu spantun dan seloka syair serta gurindam
Kiasnya cantik dalam lirik madah dan nyanyian
Terhantar kalian dongeng dan peri mitos-lagenda
                 hikayat atau ceritera.

Maka membesarlah bahasa ini
Kerana bertali-temali hati yang mencintai
Dari arus-mengarus sukma yang merindui
Pada dahannya bergantungan tulus pengorbanan
Akan pada rantingnya berjuraian gugus-gugus kerelaan
Di perdu membanirkan yakin kukuh
Kita generasi di gemilang peninggalan
Kita bangsa pada kebangkitan di agung warisan.

Dan, ketika di mana-mana dijelingkan curiga
            dicebikkan upaya
Kau dengarkah mereka berganti silih
            memperagakan senda
Rimbunnya gemulai amat tatkala mendepani
           ribut mengasak
Beliung waktu memusarkan gelora ancam dan
           rempuh yang baru
Gelombang peralihan nanti menghumban pergi
          oleh kudratnya rapuh
Ia, kata mereka, hanya seorang lelaki tua
           bermundar-mandir di lorong sempit
Daun-daunnya kegersangan tergetus dicakar
          tantangan tak mengendah
Berdurja akhirnya di tubiran musim, tersepit
          akhirnya ia resapkan.

Keresahan atas nama apakah keresahan
         telah ia resapkan
Cemas dan gementar rupanya kian mengisi
         setia yanmg calar
Sisih dan tolak mengikis menghakis tulus
        yang retak
Kebencian atas nama apakah kebencian
         sudah ia pendamkan
Sipu dan malu rupanya makin menggelincir
         ragu yang cair
Gundah dan ronta menjurang menjarak
         terima yang rela
Aduh, bahasa mengaduh dalam kesal keluh
        ia pun mengaduh
Aduhai, nestapanya tumpah terburai di saujana
        impiannya yang mensaujana.

Siapakah akhirnya yang berdiri nyaring menjerkah:
        "Inilah rimbun bahasa kita!"
Semangatnya dititih dengan keris saktinya diasap
        sumpah keramat
Lima abad terhembus pesan lestarikan ia
       ke akhir perjuangan
Lima puluh tahun di genggam merdeka setengah kurun
       bergalang jaga
Tegak bahasaku condongnya tidak tumbangnya
       sesekali jangan
Seluruhnya mengahrum taman sastera seluruhnya
      mewangi kebunan budaya
Citra bahasa mempelangikan megah menjaluri
      martabat dan maruah
Dan, rimbunnya merendang memayungi bumi
      dan bangsa ini sampai abadi.


(disalin daripada koleksi sajak KITA Lim Swee Tin)

No comments:

Post a Comment